Makanan Bergizi Gaza
Hubungi Kami
Artikel

Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air

13 Oct 2026 Syifa Alfi
Beban Berlapis Perempuan Gaza di Tengah Krisis Air

Di tengah kehancuran akibat genosida Israel, krisis air di Gaza bukan sekadar persoalan sulit mendapatkan air minum. Bagi perempuan Gaza, kelangkaan air bersih juga menjadi ancaman terhadap keselamatan dan martabat mereka.

Oxfam menguraikan tujuh dimensi dampak krisis air terhadap perempuan dan anak perempuan. Temuan tersebut bersumber dari wawancara mendalam dengan 21 perempuan dan anak perempuan di kamp pengungsian, sekolah penampungan, serta permukiman tenda informal di Jalur Gaza.

Seberapa Parah Krisis Air yang Dihadapi Warga Gaza?

UNICEF melaporkan pada 29 Mei 2026 bahwa sekitar 82% keluarga di Gaza mengalami kerawanan air. Bahkan, hingga 70% keluarga tidak dapat memperoleh enam liter air per orang per hari untuk minum dan memasak.

Data UNICEF, 29 Mei 2026

82%

keluarga di Gaza mengalami kerawanan air, sementara hingga 70% tidak memperoleh enam liter air per orang per hari untuk minum dan memasak.

Sumber: UNICEF State of Palestine.

Kondisi tersebut memaksa keluarga menentukan kebutuhan mana yang harus diprioritaskan. Air yang tersedia mungkin cukup untuk minum, tetapi tidak untuk mandi, mencuci pakaian, atau menjaga kebersihan tempat tinggal. Akibatnya, kebutuhan dasar yang seharusnya berjalan bersamaan berubah menjadi pilihan yang sulit.

Apa Saja Beban Berlapis yang Dihadapi Perempuan Gaza?

Bagi perempuan, persoalan ini semakin berat karena mereka kerap memikul tanggung jawab ganda; mengasuh anak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kelangkaan air akhirnya memperbesar beban yang sebelumnya sudah muncul akibat pengungsian dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Berikut beban yang harus dipikul perempuan Gaza saat krisis air mencekik.

1. Mengambil Air Menguras Tenaga dan Waktu

Bantuan air bersih tak jarang berada jauh dari tempat tinggal, sehingga perempuan harus berjalan ratusan meter hingga beberapa kilometer, mengantre berjam-jam, kemudian membawa jeriken berat kembali ke tempat pengungsian. Aktivitas ini menguras tenaga, terutama bagi perempuan lanjut usia, ibu dengan anak kecil, dan mereka yang memiliki penyakit kronis.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk mendampingi anak belajar, beristirahat, atau memenuhi kebutuhan pribadi tersita untuk mencari air. Situasi ini menciptakan kemiskinan waktu, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan kesempatan melakukan kegiatan penting karena harus terus-menerus memenuhi kebutuhan dasar.

2. Genosida Merenggut Keluarga, Perempuan Memikul Tanggung Jawab yang Tersisa

Serangan Israel telah merenggut begitu banyak nyawa di Gaza, termasuk para ibu dan ayah yang menjadi penopang keluarga. Ketika suami meninggal, hilang, atau terluka parah, perempuan harus mengambil alih tanggung jawab yang sebelumnya dipikul bersama.

Menurut laporan UN Women pada 8 September 2026, hampir satu dari empat rumah tangga di Gaza kini dikepalai perempuan, sekitar 86.290 rumah tangga. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum Oktober 2023. Bayangkan, betapa sulitnya perempuan yang menghidupi keluarga seorang diri. Ia harus mencari air sekaligus memastikan anggota keluarga lainnya tetap mendapatkan makanan serta kebutuhan kebersihan.

Laporan Oxfam juga mencatat kesaksian tentang penghinaan, pelecehan verbal, dan rasa takut ketika perempuan mengakses titik distribusi air. Artinya, persoalannya bukan hanya seberapa jauh mereka harus berjalan, tetapi juga apakah mereka dapat memperoleh air tanpa menghadapi ancaman terhadap keselamatan dan martabatnya.

3. Perempuan Hamil dan Menyusui Menghadapi Risiko Kesehatan

Ketersediaan air yang tidak menentu menyulitkan perempuan hamil dan menyusui menjaga kebutuhan cairan serta kebersihan diri. Ibu yang merawat bayi juga membutuhkan air bersih untuk membersihkan peralatan makan, mencuci pakaian, dan menjaga lingkungan bayi tetap higienis.

Ketika air bersih sulit diperoleh, risiko dehidrasi dan infeksi meningkat. Sementara itu, sanitasi yang buruk dapat memperbesar paparan terhadap penyakit, terutama bagi anak-anak yang tinggal di tempat penampungan padat dengan fasilitas kebersihan terbatas.

4. Perempuan Lansia dan Penyandang Disabilitas Semakin Rentan

Jarak titik air, jalur yang sulit dilalui, serta fasilitas toilet yang tidak ramah disabilitas membuat perempuan lansia dan penyandang disabilitas semakin bergantung pada bantuan orang lain. Sebagian terpaksa menunda mandi atau mencuci pakaian karena tidak mampu mengakses fasilitas secara mandiri.

Ketergantungan tersebut membuat perempuan dapat kehilangan kendali atas kebutuhan tubuhnya sendiri. Oleh sebab itu, bantuan WASH atau air, sanitasi, dan kebersihan harus memperhitungkan aksesibilitas serta kebutuhan kelompok rentan.

5. Menstruasi Menjadi Tantangan Tanpa Air dan Privasi

Perempuan dan remaja putri membutuhkan air bersih, perlengkapan menstruasi, serta tempat yang aman dan privat untuk menjaga kebersihan selama menstruasi. Namun, keterbatasan pasokan dan fasilitas membuat sebagian perempuan Gaza terpaksa menggunakan kembali bahan yang tidak layak karena tidak memiliki alternatif.

Kondisi ini meningkatkan ketidaknyamanan, risiko iritasi, dan kemungkinan infeksi. Selain itu, rasa malu serta ketakutan terhadap kebocoran atau pelecehan dapat membuat perempuan membatasi aktivitas di luar tempat tinggalnya.

6. Sanitasi Buruk Meningkatkan Risiko Penyakit

Toilet komunal yang padat, tidak bersih, minim air, dan kurang memberikan privasi dapat menyulitkan perempuan menjaga kebersihan diri. Apabila keluarga juga kekurangan sabun dan air untuk mencuci, penyakit kulit, diare, serta infeksi lebih mudah menyebar.

Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan fisik. Sanitasi yang tidak aman juga dapat meningkatkan kecemasan, membatasi mobilitas, dan membuat perempuan merasa rentan ketika harus menggunakan toilet atau mengambil air.

7. Tekanan Psikologis Memperberat Penderitaan

Ketidakpastian pasokan air, tanggung jawab terhadap keluarga, pengalaman pengungsian, serta risiko pelecehan menciptakan tekanan psikologis yang berkepanjangan. Bagi janda, perempuan yang bercerai, dan mereka yang tidak memiliki dukungan sosial, tekanan tersebut terasa semakin berat.

Mengapa Bantuan Air Harus Memperhatikan Kebutuhan Perempuan?

Dukungan air bersih membantu keluarga memenuhi kebutuhan minum dan kebersihan. Namun, penyalurannya juga perlu mempertimbangkan jarak, keamanan, akses bagi perempuan penyandang disabilitas, serta kebutuhan ibu dan anak. Dengan begitu, bantuan tidak hanya menjangkau warga, tetapi juga membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar secara lebih aman dan bermartabat.

Bantu Penuhi Kebutuhan Air Bersih di Gaza

Di balik setiap kebutuhan air, ada perempuan Gaza yang berjuang menjaga kesehatan dirinya dan keluarganya. Melalui program Air Kehidupan Gaza, Anda dapat ikut mendukung upaya pemenuhan kebutuhan air darurat bagi warga Palestina.

Salurkan donasi melalui rekening resmi Alquds Volunteers Indonesia (AVI):

BSI 369 369 0004 a.n. AVI Peduli Kemanusiaan

Mandiri 127 00 7223347 9 a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia

Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp 0811 820 196 untuk membantu proses pencatatan dan memperoleh informasi laporan penyaluran.

FAQ Seputar Perempuan Gaza dan Krisis Air

Apa hubungan krisis air dengan kesehatan perempuan Gaza?

Kekurangan air bersih menyulitkan perempuan menjaga hidrasi, kebersihan tubuh, sanitasi, dan kebersihan menstruasi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, iritasi, serta penyakit yang berkaitan dengan air dan sanitasi yang buruk.

Mengapa perempuan menanggung beban lebih besar saat mengambil air?

Perempuan kerap memikul tanggung jawab pengasuhan dan kebutuhan rumah tangga. Ketika air sulit dijangkau, mereka harus menghabiskan waktu untuk berjalan, mengantre, dan membawa air, sekaligus menghadapi risiko keselamatan.

Apa itu krisis WASH di Gaza?

WASH merupakan singkatan dari *Water, Sanitation, and Hygiene*, yaitu air, sanitasi, dan kebersihan. Krisis WASH terjadi ketika masyarakat tidak memiliki akses memadai terhadap air aman, toilet yang layak, dan perlengkapan kebersihan.

Bagaimana cara membantu perempuan dan keluarga di Gaza?

Dukungan dapat diberikan melalui bantuan air bersih, perlengkapan kebersihan, sanitasi yang aman, dan bantuan kemanusiaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Bantu Mereka yang Membutuhkan di Palestina

Setiap donasi Anda memberikan harapan bagi saudara-saudara kita di Gaza.

Artikel Terkait

Tiga Tahun Genosida Palestina, Saatnya Meneguhkan Kembali Solidaritas!
Artikel

Tiga Tahun Genosida Palestina, Saatnya Meneguhkan Kembali Solidaritas!

Tiga tahun sejak 7 Oktober 2023, penderitaan warga Palestina di Gaza terus menguji kepedulian dunia....

09 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya
Saat Kelahiran di Gaza Harus Berhadapan dengan Krisis Kemanusiaan
Artikel

Saat Kelahiran di Gaza Harus Berhadapan dengan Krisis Kemanusiaan

Kelahiran di Gaza berlangsung dalam kondisi yang jauh dari aman. Kenaikan kelahiran prematur dan bay...

07 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya
Bagaimana Warga Gaza Bersiap Hadapi Musim Dingin Palestina?
Artikel

Bagaimana Warga Gaza Bersiap Hadapi Musim Dingin Palestina?

Bagi warga Gaza, musim dingin Palestina bukan sekadar perubahan cuaca. Ketika hujan deras turun, ang...

06 Oct 2026 Syifa Alfi
Baca Selengkapnya