355 Anak Palestina Ditahan di Penjara Militer Israel, PBB Soroti Hak Mereka
Sebanyak 355 anak Palestina dari Tepi Barat kini berada dalam tahanan militer Israel, jumlah yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Data tersebut disampaikan Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Hannan Sulieman dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Timur Tengah.
Sulieman menempatkan penahanan anak-anak tersebut dalam konteks meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Antara Januari 2024 hingga Juli 2026, PBB memverifikasi 174 anak Palestina tewas di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Angka itu setara dengan lebih dari satu anak setiap pekan selama periode tersebut.
Selain korban meninggal, lebih dari 1.500 anak Palestina mengalami luka-luka. Hampir separuh kasus cedera tersebut, menurut Sulieman, disebabkan peluru tajam. Dalam periode yang sama, PBB juga memverifikasi tiga anak Israel tewas dan 15 lainnya terluka.
Peringatan UNICEF tersebut disampaikan ketika Tepi Barat menghadapi peningkatan kekerasan dan pengungsian. Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, mengatakan hingga 10 Agustus 2026 sebanyak 76 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat sepanjang tahun ini, termasuk 18 anak.
Alakbarov juga melaporkan, sebagaimana dikutip media lokal seperti kantor berita resmi Palestina, WAFA, sekitar 3.800 warga Palestina telah mengungsi pada 2026 akibat kekerasan pemukim, pembongkaran, dan penggusuran. PBB mendokumentasikan lebih dari 1.430 insiden kekerasan pemukim yang memengaruhi sekitar 260 komunitas Palestina.
Menurut Alakbarov, serangan yang sebelumnya banyak dilaporkan di Area C kini juga terjadi di Area B dan Area A. Sidang Dewan Keamanan tersebut digelar untuk kedua kalinya dalam dua pekan seiring meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.
Dalam keterangannya, Sulieman menggambarkan kondisi ruang hidup anak-anak yang semakin tidak aman. Ia menceritakan seorang nenek yang takut meninggalkan rumah setelah sebuah granat dilemparkan ke dapurnya ketika cucu-cucunya berada di dalam.
"Ruang-ruang fundamental masa kanak-kanak – rumah, ruang kelas, jalanan, komunitas – semakin tidak aman," kata Sulieman.
Ia mendesak Dewan Keamanan melindungi anak-anak, mencegah pengusiran paksa keluarga Palestina, serta menjamin akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
"Anak-anak di Tepi Barat memiliki hak yang sama seperti anak-anak di mana pun," ujarnya, termasuk hak "untuk hidup, untuk belajar, untuk dilindungi, dan untuk membayangkan masa depan yang bebas dari kekerasan dan ketakutan." (nun/avi)
Sumber: