Amal Alabadla Bertahan Hidup Bersama Dua Anaknya di Tenda Pengungsian
Amal Alabadla, seorang arsitek Palestina, kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari sebelum perang Gaza. Dari rumah susun yang nyaman, ia harus tinggal di tenda pengungsian di tepi pantai dan membesarkan kedua putranya, Mohammed dan Noah, seorang diri. Suaminya berada di luar Gaza ketika konflik memanas dan hingga kini mereka belum dapat berkumpul kembali selama tiga tahun.
Tanggung jawab Amal semakin berat setelah tiga saudara laki-lakinya, yang selama ini membantu merawat anak-anaknya, tewas dalam serangan terpisah sebelum gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Sejak itu, ia menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan kedua putranya di tengah kondisi tempat tinggal yang tidak memadai.
Tenda yang menjadi tempat berlindung keluarganya kerap kebanjiran ketika hujan turun. Angin kencang juga membuatnya khawatir tempat tinggal tersebut akan rusak atau hancur. Saat musim dingin, salah satu putranya bahkan mengalami kejang epilepsi akibat kedinginan.
“Kadang-kadang sangat sulit untuk menjaganya tetap kering dan hangat,” kata Amal seperti dikutip dari BBC, Senin (12/10/2026).
Ia menggambarkan perubahan hidupnya sebagai sesuatu yang drastis. Sebelum perang, Amal memiliki pekerjaan, rumah, dan kehidupan sehari-hari yang normal. Kini, perhatiannya tertuju pada upaya menjaga anak-anak tetap hidup, bersih, sehat, dan kenyang.
“Yang terpenting adalah bertahan hidup dari hari ke hari,” ujarnya.
Pengalaman Amal berlangsung dalam situasi pengungsian yang dialami sebagian besar penduduk Gaza. Menurut PBB, sekitar 2,1 juta warga Palestina telah berulang kali mengungsi akibat perang. Banyak dari mereka bertahan di tenda atau bangunan yang tidak aman, termasuk lokasi pengungsian yang rentan terendam banjir.
Kesulitan tersebut berlanjut meskipun gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025. Serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku, sementara lebih dari 74.000 orang telah tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Harapan untuk kembali menjalani kehidupan normal juga terhambat karena rekonstruksi belum dimulai. Kebuntuan mengenai fase kedua kesepakatan, termasuk penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas, membuat pembangunan kembali belum berjalan. Israel juga membatasi jenis material dan mesin yang dapat memasuki Gaza.
Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengusulkan rencana pemulihan senilai 2,45 miliar dolar AS. Namun, bagi Amal, rencana tersebut belum mengubah keadaan keluarganya.
“Kami sedang berjuang dan tidak diizinkan untuk membangun kembali,” katanya. Ia meragukan adanya jaminan bahwa anak-anaknya kelak dapat memiliki masa depan yang aman. (nun/avi)