Citra Satelit Google Maps Tunjukkan Skala Kehancuran di Seluruh Gaza
Citra satelit Google Maps yang diperbarui pada September 2026 memperlihatkan secara lebih jelas perubahan lanskap Jalur Gaza setelah hampir tiga tahun perang.
Kawasan permukiman yang sebelumnya padat tampak berubah menjadi hamparan reruntuhan, sementara sejumlah area lain memperlihatkan jejak jalan, lahan terbuka, dan konsentrasi tenda pengungsi.
Citra tersebut memberi gambaran visual mengenai skala kerusakan yang sebelumnya terutama terlihat melalui laporan dan dokumentasi lapangan.
Pembaruan ini mencakup sejumlah wilayah Gaza dengan perbedaan waktu pengambilan citra. Al Jazeera mencatat citra Rafah yang digunakan dalam perbandingan berasal dari 2026, sementara sejumlah citra Gaza utara berasal dari 2024 dan 2025. Dengan membandingkan kondisi sebelum perang dan perkembangan terbaru, perubahan fisik sejumlah lingkungan terlihat sangat signifikan.
Data satelit UNOSAT memperkuat gambaran tersebut. Berdasarkan penilaian per 16 Juni 2026, sebanyak 201.290 struktur di Jalur Gaza mengalami kerusakan, setara sekitar 82 persen dari seluruh struktur. Rinciannya mencakup 134.422 bangunan yang hancur, 13.848 rusak berat, 28.096 mengalami kerusakan sedang, dan 24.924 masuk kategori kemungkinan rusak. Sekitar 328.627 unit rumah juga terdampak.
Skala kerusakan terlihat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di Tal as-Sultan, Rafah, kawasan yang sebelumnya padat penduduk kini dalam citra terbaru tampak sebagian besar berubah menjadi hamparan pasir dan puing.
Rafah sebelumnya menjadi salah satu tujuan utama warga yang mengungsi dari wilayah lain, sebelum sekitar satu juta orang kembali dipaksa meninggalkan kawasan tersebut setelah operasi militer Israel dimulai pada Mei 2024.
Lahan Pertanian jadi Penampungan Pengungsi
Al-Mawasi memberikan gambaran lain. Wilayah pesisir yang sebelumnya relatif jarang dihuni dan memiliki lahan pertanian tersebut pernah dinyatakan sebagai “zona kemanusiaan”.
Citra terbaru memperlihatkan kawasan yang kini dipenuhi tenda dan menjadi tempat berkumpulnya keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana ruang terbuka bergeser menjadi kawasan penampungan pengungsi.
Di Khan Younis, penilaian UNOSAT Oktober 2025 mencatat 51.885 bangunan rusak, jumlah tertinggi di antara seluruh kegubernuran Gaza pada penilaian tersebut.
Wilayah ini juga merupakan salah satu pusat pertanian utama dan mencatat luas lahan pertanian rusak terbesar di Jalur Gaza. Masjid Istiqlal Indonesia di kawasan Ma'an termasuk bangunan yang hancur selama perang.
Kota Gaza mencatat 51.530 bangunan rusak dalam penilaian yang sama, dengan 41.663 di antaranya berada di Kota Gaza. Kawasan pelabuhan juga mengalami kerusakan berat. Pelabuhan yang sebelumnya menjadi pusat industri perikanan dan menopang mata pencaharian sekitar 110.000 orang mengalami kerusakan besar, sementara sebagian besar kapal penangkap ikan dilaporkan hancur.
Di Gaza Utara, dampak terhadap lahan pertanian juga sangat besar. Menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut, sekitar 94 persen lahan pertanian di wilayah itu rusak pada Juli 2025. Kamp pengungsi Jabalia, yang merupakan kamp terbesar dari delapan kamp pengungsi di Gaza, dalam citra satelit tampak mengalami kehancuran luas, dengan sejumlah blok permukiman berubah menjadi puing.
Perubahan lanskap tersebut berlangsung bersamaan dengan korban manusia dalam jumlah besar. Data yang dikutip dari otoritas kesehatan Gaza menunjukkan lebih dari 74.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023. Jumlah sebenarnya dapat lebih tinggi karena masih terdapat orang yang hilang dan diduga berada di bawah reruntuhan.
Ketika dibandingkan dengan data UNOSAT, gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan Gaza mencakup bukan hanya bangunan individual, tetapi juga jaringan ruang hidup yang menopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Pembaruan citra Google Maps juga memberikan akses publik terhadap gambaran kehancuran yang sulit diamati secara langsung. Dengan pembatasan akses dan kondisi lapangan yang terus berubah, citra dari udara menjadi salah satu sumber visual untuk memahami bagaimana lingkungan Gaza berubah dari waktu ke waktu. (nun/avi)