Dibawah Kontrol Militer Israel Geografi Gaza Berubah, Wilayah Palestina Makin Terbatas
Peta Gaza berubah drastis setelah hampir tiga tahun perang. Kontrol militer Israel dan pembatasan akses tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga membagi wilayah, mempersempit ruang hidup warga Palestina, serta memutus akses mereka ke rumah, lahan pertanian dan sejumlah fasilitas vital.
Pada September, Euro-Med Human Rights Monitor menyatakan kendali militer Israel dan pembatasan akses mencakup sekitar 70 persen wilayah Gaza. Akibatnya, lebih dari dua juta warga Palestina terkonsentrasi di kurang dari 30 persen wilayah Jalur Gaza. Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan pengungsian berulang yang terjadi sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Salah satu penanda perubahan itu adalah Garis Kuning, yang disebut sebagai garis demarkasi militer di dalam Gaza dengan area penempatan pasukan Israel dan akses terbatas. Sejak ditetapkan berdasarkan “gencatan senjata” Oktober 2025, garis tersebut dilaporkan bergeser lebih dalam ke kawasan berpenduduk dan memaksa keluarga kembali mengungsi.
Rafah memperlihatkan perubahan tersebut secara nyata. Kota di selatan Gaza yang berbatasan dengan Mesir itu pernah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang mengungsi dari berbagai wilayah. Namun, operasi militer Israel pada Mei 2024 menyebabkan lebih dari 800.000 orang mengungsi, menurut PBB.
Kini, hampir seluruh Rafah, kecuali kawasan barat Mawasi Rafah, berada di bawah kendali Israel sehingga warga yang meninggalkan kota tidak dapat kembali ke rumah mereka.
Pada 29 September, Euro-Med memperingatkan bahwa perluasan wilayah yang dikuasai Israel menghalangi warga Palestina mengakses rumah dan tanah mereka serta membuat kepastian untuk kembali semakin tidak tersedia.
Perubahan ruang hidup tersebut berlangsung setelah sebagian besar Gaza mengalami kehancuran. Lebih dari 74.245 warga Palestina telah tewas menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sementara 1.462 orang lainnya dilaporkan tewas sejak “gencatan senjata” Oktober 2025.
Dilansir Aljazeera pada Selasa (7/10/2026), dilaporkan sekitar 94 persen penduduk masih membutuhkan tempat tinggal dan bantuan rumah tangga dasar, sedangkan 65 persen rumah tangga tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat.
Akses terhadap layanan vital juga semakin terbatas. Seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan dan hanya 19 yang masih berfungsi, tanpa satu pun beroperasi penuh.
Hampir 98 persen sekolah juga rusak atau hancur. Hingga April 2026, sekitar 700.000 anak usia 4 hingga 17 tahun kehilangan hampir tiga tahun pendidikan tatap muka.
Keterbatasan ruang dan akses berjalan bersama dengan keruntuhan ekonomi. UNCTAD memperkirakan 92 persen lembaga ekonomi Gaza rusak atau hancur sejak Oktober 2023, sementara tingkat pengangguran mencapai 78 persen. PDB per kapita pada 2025 hanya sekitar 212 dolar AS, atau 17 persen dari tingkat 2022.
Perubahan geografis itu pada akhirnya turut mengubah cara warga menjalani kehidupan sehari-hari. Rumah yang tidak dapat didatangi, lahan yang tidak dapat diakses, layanan yang rusak, serta wilayah hidup yang semakin sempit membuat aktivitas dasar seperti memperoleh air, mendapatkan layanan kesehatan, bersekolah, dan berpindah tempat berlangsung dalam ruang yang terus menyusut. (nun/avi)