Jumlah Janda di Gaza Tembus 50.000, Lebih dari 28.000 Menjadi Janda Akibat Perang
Jumlah janda di Jalur Gaza kini telah melampaui 50.000 orang. Data Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza mencatat 28.224 perempuan menjadi janda akibat perang, sementara lebih dari 22.500 janda telah terdaftar di kementerian sebelum perang dimulai.
Angka tersebut menggambarkan bertambahnya jumlah perempuan yang kini menjalankan kehidupan keluarga tanpa pasangan. Aziza al-Kahlout, juru bicara Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza, mengatakan jumlah itu masih dapat bertambah karena belum seluruh janda tercatat dalam administrasi kementerian.
“Perang telah membuat para wanita ini menghadapi kenyataan yang sulit, termasuk tanggung jawab untuk menghidupi keluarga mereka tanpa pencari nafkah, di tengah kehancuran yang meluas dan runtuhnya kondisi dasar yang dibutuhkan untuk kehidupan yang layak,” kata al-Kahlout, dikutip dari Aljazeera, Selasa (11/8/2026).
Kisah Mona al-Masri menjadi salah satu gambaran kondisi tersebut. Ia kehilangan suaminya, Mohammed, dalam serangan Israel pada September 2024. Sebagai ibu empat anak berusia antara sembilan hingga dua tahun, Mona kini tinggal di tenda pengungsian di Gaza utara dan mengurus kebutuhan keluarganya seorang diri.
Setiap hari ia mencari air, menyiapkan makanan, serta merawat anak-anaknya dalam kondisi pengungsian. “Tidak ada kehidupan normal di dalam tenda. Setiap hari dimulai dengan pertanyaan yang sama: bagaimana kita akan memenuhi kebutuhan kita, dan bagaimana kita akan melewati hari lain di tengah kelelahan ini?” ujar Mona.
Menurut al-Kahlout, kebutuhan para janda tidak berhenti pada bantuan keuangan. Mereka juga memerlukan dukungan psikologis dan sosial, layanan kesehatan, bantuan hukum mengenai perwalian, hak asuh, hak finansial dan warisan, serta akses pendidikan dan pelatihan kejuruan.
Aseel Abu Shaweesh, seorang psikolog, menyebut kehilangan suami dalam kondisi perang dapat menambah tanggung jawab perempuan ketika mereka juga menghadapi pengungsian dan ketidakstabilan kehidupan. Anak-anak dalam keluarga tersebut turut terdampak.
“Seorang anak kehilangan ayahnya dan rasa aman serta stabilitasnya,” kata Abu Shaweesh. Ia menyebut ketakutan terus-menerus, gangguan tidur, dan perubahan perilaku sebagai sejumlah kondisi yang dapat muncul pada anak setelah kehilangan orang tua.
Al-Kahlout menegaskan bahwa perlindungan dan pemberdayaan janda di Gaza membutuhkan respons berkelanjutan. Program bantuan rutin, layanan psikososial, perawatan kesehatan, dukungan hukum, pendidikan, pelatihan kerja, serta bantuan bagi usaha kecil disebut sebagai kebutuhan yang perlu disediakan bagi perempuan yang kini memikul tanggung jawab keluarga. (nun/avi)
Sumber: