“Kapan Ayah Pulang?”, Mahmoud Saksikan Anaknya Tumbuh dari Layar Ponsel
Setiap kali berbicara melalui telepon, Salah terkadang mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab ayahnya, Mahmoud Aslih: “Kapan Ayah pulang?” Mahmoud tidak memiliki jawaban yang pasti.
Ia biasanya mencoba mengubah topik pembicaraan atau mengalihkan perhatian putranya, lalu kembali menyaksikan pertumbuhan anak itu melalui layar ponsel.
Mahmoud, 26 tahun, kini tinggal di sebuah tenda di Jalur Gaza, sementara istrinya, Nancy Abu Sweilem, 24 tahun, dan Salah berada di Beersheba. Jarak kedua tempat itu relatif dekat secara geografis, tetapi selama tiga tahun terakhir tidak dapat dilalui Mahmoud untuk kembali kepada keluarganya.
Pada 3 November 2023, kehidupan keluarga tersebut terputus. Polisi Israel datang ke rumah Mahmoud, menahannya di depan istri dan anaknya, kemudian membawanya ke kantor polisi di Beersheba. Ia ditahan sekitar sepekan sebelum diserahkan kepada tentara dan dideportasi ke Jalur Gaza melalui Karem Abu Salem.
Mahmoud mengatakan dirinya tidak menyangka akan dideportasi karena memiliki dokumen pengadilan Israel yang mencegah deportasi, meski kini ia tidak lagi memiliki salinannya. Saat itu Salah baru berusia delapan bulan. Pelukan beberapa jam sebelum deportasi menjadi pertemuan langsung terakhirnya dengan sang anak.
“Hal terakhir yang saya ingat adalah memeluknya beberapa jam sebelum deportasi saya. Saya merasa tidak pernah cukup sering melihatnya atau memeluknya,” ujar Mahmoud seperti dikutip AVI dari kantor berita WAFA, Senin (5/10/2026).
Sejak itu, panggilan suara dan video menjadi satu-satunya cara mereka berkomunikasi ketika koneksi internet memungkinkan. Namun, percakapan melalui layar tidak dapat menggantikan kehadiran seorang ayah. Salah tumbuh tanpa kenangan jelas tentang Mahmoud. Nancy bahkan memasang foto suaminya sebagai wallpaper ponsel agar wajah ayahnya tetap dikenali sang anak.
Salah kini mulai bertanya, “Ayahku di mana? Mengapa dia tidak datang menjemputku?” terutama ketika melihat anak-anak lain bersama ayah mereka. Nancy berusaha menjelaskan dan memungkinkan anaknya berbicara dengan Mahmoud setiap kali kesempatan tersedia.
“Saya mencoba memainkan peran sebagai ibu dan ayah sekaligus, tetapi itu sangat sulit,” kata Nancy.
Pengacara Samir Al-Manaameh dari Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan mengatakan pemisahan warga Palestina dari pasangan dan anaknya merampas hak keluarga untuk bersatu dan hidup bersama.
Menurutnya, terdapat puluhan keluarga Palestina dengan anggota yang dideportasi secara paksa ke Gaza, meski belum tersedia statistik akurat mengenai jumlah keseluruhan.
Salah akan segera berusia empat tahun. Mahmoud mengatakan satu-satunya harapan yang terus ia pegang adalah dapat bertemu kembali dengan putranya. Jika kesempatan itu datang, katanya, hal pertama yang akan dilakukan adalah memeluk Salah erat-erat. “Dia adalah segalanya bagiku dalam hidup ini.” (nun/avi)