Rabi Senior Israel Sebut Hidup Berdampingan dengan Orang Arab Dimungkinkan Tanpa Negara
Rabi senior ultra-Ortodoks Israel, Dov Lando, menyatakan bahwa orang Yahudi dapat hidup berdampingan dengan baik bersama orang Arab tanpa harus memiliki negara sendiri.
Ia bahkan menyebut pemerintahan internasional atau Palestina sebagai “situasi terbaik” bagi orang Yahudi. Pernyataan tersebut memicu kontroversi politik di Israel menjelang pemilihan legislatif pada 27 Oktober.
Pandangan itu muncul dalam rekaman video yang dirilis media Israel awal Oktober, berisi pernyataan Lando sekitar setahun sebelumnya. Rabi berusia 96 tahun tersebut mengkritik ideologi Zionisme yang menurutnya membawa bencana fisik dan spiritual bagi bangsa Yahudi.
“Zionisme menyebabkan orang Arab membenci kita,” kata Lando dalam rekaman tersebut, seperti dikutip media dari Aljazeera, Jum'at (9/10/2026). Ia juga menilai bahwa kehidupan bersama orang Arab tetap memungkinkan tanpa keberadaan negara Yahudi.
Lando turut mengkritik tentara yang menganut Zionisme Religius, aliran Yudaisme Ortodoks yang mendukung Zionisme. Menurutnya, para tentara itu terbunuh karena diajari pemahaman Taurat yang menyimpang oleh para rabinya. Ia juga menyatakan bahwa sejumlah operasi militer dilakukan bukan untuk menyelamatkan nyawa, melainkan demi kehormatan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh tokoh yang memiliki pengaruh penting dalam komunitas ultra-Ortodoks Lituania di Israel. Lando memimpin sebuah yeshiva di Bnei Brak, menjadi anggota Moetzes Gedolei HaTorah, serta pemimpin spiritual Degel HaTorah. Partai tersebut tergabung dalam United Torah Judaism (UTJ), yang menjadi bagian dari koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Sejumlah tokoh oposisi mengecam pernyataan Lando. Gadi Eisenkot, pemimpin partai Yashar, menyebutnya sebagai perwujudan anti-Zionisme. Yair Lapid, pemimpin oposisi di Knesset, menilai komentar itu sebagai aib bagi setiap orang Yahudi. Sementara itu, mantan perdana menteri Naftali Bennett menyebutnya anti-Semit, anti-Zionis, dan bertentangan dengan militer Israel.
Kontroversi ini juga menempatkan Netanyahu dalam posisi politik yang sulit. Para politisi oposisi mendesak agar UTJ tidak dilibatkan dalam pemerintahan mendatang. Namun, dukungan partai tersebut dapat menentukan peluang Netanyahu membentuk koalisi mayoritas di parlemen.
Jajak pendapat Channel 12 Israel pada 5 Oktober memproyeksikan UTJ memperoleh delapan kursi. Netanyahu sendiri belum menanggapi pernyataan terbaru Lando, meskipun pada Juli ia pernah mengecam komentar serupa dari sang rabi mengenai Zionisme Religius.
Peneliti urusan Israel, Ehab Jabareen, menilai Netanyahu menghadapi dilema: mengecam Lando berisiko kehilangan dukungan kaum Haredim, sedangkan tetap diam memberi amunisi kepada lawan politiknya. (nun/avi)