Ketika Flu Menjadi Ancaman Serius bagi Warga Gaza di Musim Dingin
Musim Dingin di Gaza Meningkatkan Risiko Kesehatan
Musim dingin di Palestina menjadi tantangan besar bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat genosida. Di Gaza, banyak keluarga masih bertahan di tenda atau tempat penampungan yang tidak memadai. Saat cuaca buruk, hujan deras dan angin kencang mengancam tempat tinggal sementara mereka. Akibatnya, anak-anak harus menghadapi suhu rendah tanpa perlindungan maksimal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko hipotermia dan memperburuk kerentanan kesehatan. Selain itu, genangan air dan buruknya sanitasi menambah risiko penyakit bagi keluarga yang tinggal berdesakan di lokasi pengungsian.
Mengapa Flu dan Infeksi Pernapasan Lebih Mengkhawatirkan?
Cuaca dingin bukan satu-satunya penyebab flu. Namun, suhu rendah, tempat tinggal yang padat, ventilasi buruk, dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dapat memperbesar dampak infeksi pernapasan.
68%
Kasus penyakit yang dilaporkan merupakan ISPA
Menurut laporan OCHA pada November 2025, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencakup 68% dari seluruh kasus penyakit yang dilaporkan pada 2025. Angka ini merujuk pada ISPA secara keseluruhan, bukan flu saja.
Data tersebut menunjukkan besarnya beban penyakit pernapasan di Gaza. Karena itu, flu di Gaza bisa menjadi ancaman yang serius, apalagi kondisi tempat tinggal dan keterbatasan layanan medis turut mempersulit penanganan penyakit.
Mengapa Anak-Anak dan Bayi Menghadapi Risiko Lebih Besar?
Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap infeksi pernapasan dan dampak paparan suhu rendah. Ketika mereka mengalami demam, batuk, atau kesulitan bernapas, kondisinya dapat memburuk dan membutuhkan pemeriksaan medis.
Risiko tersebut meningkat ketika anak-anak mengalami kekurangan gizi, tinggal di tempat lembap, atau tidak memiliki pakaian hangat dan selimut yang cukup. Tubuh yang sedang tumbuh tentunya membutuhkan asupan gizi dan lingkungan yang mendukung pemulihan.
Risiko hipotermia, infeksi pernapasan, dan penyakit yang berkaitan dengan air mengintai selama musim dingin. Karena itu, perlindungan bagi bayi dan anak-anak perlu menjadi prioritas dalam respons kemanusiaan.
Bagaimana Keterbatasan Akses Pengobatan Memperburuk Kondisi?
Warga yang mengalami gejala penyakit membutuhkan pemeriksaan, obat-obatan, dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau. Namun, kerusakan fasilitas medis dan keterbatasan pasokan membuat kebutuhan tersebut sulit dipenuhi secara merata.
Keterbatasan fasilitas kesehatan, tenaga medis, bahan bakar, dan perlengkapan medis dapat menghambat pemeriksaan maupun perawatan. Akibatnya, keluarga tidak hanya menghadapi risiko jatuh sakit, tetapi juga kesulitan memperoleh penanganan tepat waktu.
Karena itu, pencegahan dan perlindungan selama musim dingin sangatlah penting, tanpa mengesampingkan kebutuhan pengobatan bagi warga yang sudah sakit.
Mengapa Bantuan Musim Dingin Juga Berarti Perlindungan Kesehatan?
Bantuan musim dingin membantu keluarga menghadapi cuaca dingin sekaligus mengurangi paparan terhadap kondisi yang memperburuk kesehatan. Kebutuhannya tidak terbatas pada pakaian hangat, tetapi juga mencakup selimut, perlengkapan tempat tinggal, makanan bergizi, air bersih, dan obat-obatan.
Tenda yang lebih layak dan perlengkapan tidur yang kering membantu melindungi anak-anak dari udara dingin dan hujan. Sementara itu, makanan bergizi dan akses terhadap air bersih mendukung kesehatan keluarga, sedangkan layanan medis membantu menangani penyakit yang muncul.
84%
Penduduk Gaza masih tinggal di tenda penampungan yang tak layak
Dalam rencana persiapan musim dingin 2026–2027 yang diterbitkan September 2026, UNICEF menyebut hampir 84% penduduk Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, tinggal di lokasi pengungsian padat atau bangunan rusak dan tidak layak.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa jutaan orang masih menghadapi keterbatasan perlindungan dari cuaca. Bantuan yang tepat sasaran dapat membantu mengurangi risiko kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah.
Menjaga Warga Gaza Tetap Hangat dan Mendapatkan Perawatan
Menghadapi musim dingin di Gaza membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Perlindungan dari suhu rendah, pemenuhan kebutuhan pangan, air bersih, serta akses pengobatan harus berjalan beriringan agar keluarga, terutama anak-anak dan bayi, dapat melewati musim dingin dengan lebih aman.
Alquds Volunteers Indonesia (AVI) memiliki program khusus untuk membantu warga Gaza menghadapi cuaca dingin dan memenuhi kebutuhan dasar selama musim dingin. AVI menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan warga di lapangan, mulai dari makanan hangat, pakaian dan jaket, selimut, hygiene kit, obat-obatan, bahan bakar, hingga air bersih.
Relawan dan ulama AVI hadir langsung di Gaza untuk mendukung penyaluran bantuan dan melihat kebutuhan warga secara langsung. Dukungan masyarakat membantu bantuan terus menjangkau keluarga yang membutuhkan, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Mari Bantu Hangatkan Palestina
Bantu penuhi kebutuhan musim dingin warga Gaza melalui donasi bersama Alquds Volunteers Indonesia (AVI). Setiap dukungan membantu mengupayakan perlindungan dan bantuan bagi keluarga yang membutuhkan.
Rekening Donasi Resmi
BSI
369 369 0004
a.n. AVI Peduli Kemanusiaan
Mandiri
127 00 7223347 9
a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia
Setelah berdonasi, konfirmasikan melalui WhatsApp
0811 820 196 untuk mendapatkan informasi dan laporan penyaluran bantuan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Mengapa musim dingin di Gaza meningkatkan risiko flu dan ISPA?
Cuaca dingin, tempat tinggal yang padat, ventilasi buruk, dan keterbatasan akses layanan kesehatan dapat memperbesar risiko serta dampak infeksi pernapasan. Kondisi tempat tinggal yang lembap dan kurangnya perlindungan dari hujan juga menambah risiko kesehatan.
2. Berapa suhu malam di Gaza saat musim dingin?
UNICEF melaporkan bahwa suhu malam di Gaza turun hingga sekitar 8–11°C pada Januari 2026. Suhu tersebut menjadi tantangan bagi keluarga yang tinggal di tenda atau tempat penampungan yang tidak memadai.
3. Berapa persen kasus penyakit di Gaza yang merupakan ISPA?
OCHA pada November 2025 melaporkan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencakup 68% dari seluruh kasus penyakit pada 2025. Angka tersebut merujuk pada ISPA secara keseluruhan, bukan flu saja.
4. Mengapa anak-anak lebih rentan selama musim dingin di Palestina?
Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap infeksi pernapasan dan paparan suhu rendah. Risiko meningkat ketika mereka mengalami kekurangan gizi, tinggal di tempat lembap, atau tidak memiliki pakaian hangat dan selimut yang cukup.
5. Apa saja bantuan yang dibutuhkan warga Gaza saat musim dingin?
Warga Gaza membutuhkan pakaian hangat, jaket, selimut, perlengkapan tempat tinggal, makanan bergizi, air bersih, obat-obatan, dan akses layanan kesehatan. Bantuan tersebut membantu keluarga menghadapi cuaca dingin sekaligus memenuhi kebutuhan dasar mereka.