Dapur Umum Jadi Andalan Pangan Warga Gaza di Tengah Keterbatasan
Bagi keluarga di Gaza yang tidak memiliki penghasilan tetap, dapur umum menjadi salah satu tumpuan untuk mendapatkan makanan sehari-hari. Namun akses tersebut tidak selalu tersedia secara konsisten. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah dapur yang beroperasi dan makanan yang diproduksi mengalami penurunan tajam akibat keterbatasan dana dan meningkatnya biaya operasional.
Kondisi itu dirasakan Mervat Radwan, 45 tahun, yang tinggal di tenda di Deir el-Balah bersama tiga keponakannya, ayahnya yang berusia 70 tahun, serta saudara perempuannya, Sanaa, 40 tahun. Tidak satu pun pengasuh dalam keluarga tersebut memiliki sumber pendapatan tetap. Mereka bertahan dengan mengandalkan bantuan dan amal.
Dapur umum di dekat lokasi pengungsian Radwan bahkan sempat berhenti beroperasi selama hampir dua bulan. Ketika kembali dibuka, layanan makan hanya tersedia dua hari dalam sepekan. Setiap kali mendapat informasi dapur akan menyajikan makan siang, Radwan membawa panci bersama keponakannya, Ubay.
Porsi yang diterima kerap tidak mencukupi kebutuhan tujuh orang di rumahnya. Radwan biasanya menambahkan tuna, kacang-kacangan, atau kacang polong dari bantuan yang tersedia agar makanan dapat dibagi lebih banyak.
Dilansir Aljazeera, menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, produksi makanan melalui dapur umum di Gaza turun dari sekitar 1,5 juta porsi per hari yang disediakan 165 dapur pada pertengahan Maret menjadi 698.000 porsi dari 102 dapur pada Juli.
Penurunan itu berlangsung ketika lembaga amal menghadapi kekurangan pendanaan serta meningkatnya biaya untuk memperoleh makanan dan perlengkapan memasak. Dampaknya terasa pada keluarga yang memang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Memengaruhi Kondisi Kesehatan
Radwan menjadi wali bagi tiga keponakannya setelah serangan udara Israel di Gaza utara pada 18 Oktober 2024 menewaskan saudara laki-lakinya, Mohammad, 38 tahun, istrinya Anwar, 33 tahun, dan putra mereka yang berusia satu tahun, Yosuf. Tiga anak lainnya selamat, tetapi mengalami luka bakar dan trauma psikologis.
Keterbatasan makanan juga memengaruhi kondisi kesehatan mereka. Daging tidak terjangkau, sementara sayuran segar sulit diperoleh dan mahal. Satu kilogram mentimun sekitar 15 shekel atau $4,50, sedangkan tomat mencapai 10-12 shekel atau $3-3,60. Radwan mengatakan ia terkadang hanya mampu membeli tiga mentimun untuk anak-anak.
Program Pangan Dunia pada Juli menyebut sekitar 77 persen rumah tangga di Gaza kesulitan memperoleh sayuran segar, buah-buahan, dan protein karena pendapatan yang terbatas. Habib, keponakan Radwan, bahkan telah menderita batu ginjal selama sekitar satu tahun, yang menurut dokter berkaitan dengan pola makan tinggi garam dan dominasi makanan kalengan.
Dalam situasi ketika dapur umum menjadi salah satu sumber makanan yang menentukan bagi keluarga tanpa pendapatan, dukungan terhadap penyediaan makanan bergizi tetap memiliki arti penting. Salah satu ikhtiar yang dapat didukung adalah program Makan Bergizi Gaza (MBG) yang digulirkan Al-Quds Volunteers Indonesia (AVI), sebagai bagian dari kepedulian terhadap kebutuhan pangan masyarakat Gaza. (avi/nun)