Pengungsi Perempuan Palestina Hadapi Musim Dingin Tanpa Tempat Berlindung Layak
Khitam Salman, 39 tahun, kembali menghadapi kecemasan menjelang musim dingin di Gaza, Palestina. Perempuan asal Beit Lahiya, Gaza utara, itu harus mempersiapkan keluarganya menghadapi hujan dan angin dengan tenda-tenda yang telah berulang kali robek dan roboh.
Setelah beberapa kali mengungsi selama dua tahun terakhir, ia masih belum memiliki tempat tinggal yang mampu melindungi keluarganya dari cuaca ekstrem.
“Setiap kali ada badai, kami memasang terpal dan mengikatnya, hanya untuk kemudian harus mengulanginya lagi,” kata Khitam. “Setiap kali ada sistem tekanan rendah, selalu sama,” lanjutnya, seperti dikutip Aljazeera, Rabu (28/10/2026).
Salah satu tenda keluarganya bahkan telah roboh empat kali ketika mereka sedang tidur di dalamnya. Selain rusak, tenda itu membiarkan pasir masuk dan tidak memberikan perlindungan memadai dari hujan maupun angin.
Khitam membutuhkan terpal untuk memperbaiki dua tenda serta ruang penyimpanan barang, tetapi biaya pengadaannya berada di luar kemampuan keluarga.
Suaminya bekerja di sektor kesehatan, namun menurut Khitam, gajinya hanya diterima setiap tiga bulan dan tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga.
“Tenda-tenda itu sudah tidak layak huni lagi. Tenda-tenda itu robek, dan pasir masuk ke dalamnya. Sangat melelahkan,” ujarnya.
Pengalaman musim dingin sebelumnya masih membekas. Ketika tenda mereka roboh dan seluruh barang basah, Khitam merasa sangat kewalahan hingga pergi duduk berjam-jam di tepi laut.
“Saya khawatir tentang musim dingin ini… bahwa mimpi buruk itu akan terulang kembali,” katanya.
Kondisi Khitam ini adalah persoalan yang dihadapi banyak keluarga pengungsi Palestina. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), sedikitnya 294.250 keluarga di Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal untuk musim dingin. Namun, persediaan yang tersedia hanya memungkinkan sekitar 52.000 keluarga, atau 18 persen dari jumlah tersebut, memperoleh sebagian bantuan kemanusiaan.
Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) juga melaporkan pada 5 Oktober bahwa sedikitnya 500 truk berisi material tempat tinggal masih menunggu izin masuk atau pengadaan. Dengan laju saat itu, pasokan tersebut diperkirakan membutuhkan lebih dari tujuh bulan untuk mencapai Gaza.
Sementara itu, kerusakan infrastruktur memperbesar risiko banjir di kamp pengungsian. Husni Muhanna, juru bicara Pemerintah Kota Gaza, mengatakan lebih dari 85 persen infrastruktur kota rusak dan sistem drainase air hujan hanya beroperasi sekitar 20 persen dari kapasitas sebelumnya.
Bagi Khitam dan keluarga-keluarga lain yang tinggal di tenda, persiapan musim dingin masih berkutat pada kebutuhan mendasar: terpal, tempat berlindung yang layak, dan perlindungan dari hujan serta angin. (nun/avi)