Mengenal Tradisi Penghafal Al-Qur’an di Gaza yang Terus Bertahan
Penghafal Al-Qur’an di Gaza tumbuh dari tradisi yang dikenalkan sejak usia dini dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan ketika perang menghancurkan rumah, sekolah, masjid, dan ruang belajar, banyak keluarga Palestina tetap berusaha menjaga hubungan anak-anak mereka dengan Al-Qur’an. Tradisi ini terus berlanjut dan menemukan ruang baru di tengah krisis.
Salah satu gambaran nyata terlihat dalam wisuda akbar tahfidz Qur’an yang diikuti ratusan anak Gaza pada September 2026. Bagi mereka, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan belajar agama. Lebih dari itu, hafalan menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan masyarakat yang mereka pertahankan ketika banyak hal lain telah hilang.
314 Anak Gaza Ikuti Wisuda Tahfidz Al-Qur’an
Pada 15 September 2026, Alquds Volunteers Indonesia (AVI) bersama LAZ Zakat Kita Bersama, DQWS, dan para donatur menyelenggarakan Wisuda Akbar Tahfidz Al-Qur’an di Markaz Abu Bakar Ash-Shiddiq, Az-Zaytun, Gaza. Sebanyak 314 anak berusia 6–14 tahun mengikuti wisuda tersebut setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa tradisi tahfidz tetap berjalan meskipun anak-anak Gaza menghadapi perang, pengungsian, krisis pangan, dan rusaknya banyak fasilitas pendidikan. Bahkan, laporan Al Jazeera pada 2026 menyebutkan anak-anak di Al-Mawasi, Khan Younis, masih mengikuti halaqah hafalan meski harus berpindah tempat dan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Mengapa Gaza Banyak Melahirkan Penghafal Al-Qur’an?
Tradisi penghafal Al-Qur’an di Palestina tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, kebiasaan ini tumbuh melalui keluarga, lingkungan masyarakat, pendidikan agama, dan penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
1. Al-Qur’an Dikenalkan Sejak Usia Dini
Anak-anak Palestina mengenal Al-Qur’an sejak usia dini melalui keluarga, masjid, sekolah, dan halaqah. Karena prosesnya berlangsung bertahap, generasi penerus ini tidak langsung dituntut menghafal seluruh Al-Qur’an. Mereka terlebih dahulu membangun kebiasaan membaca, mendengar, mengulang, lalu menyetorkan hafalan kepada guru atau orang tua.
Pola tersebut membuat hafalan menjadi bagian dari rutinitas. Ketika sekolah tidak lagi dapat berjalan seperti biasa, keluarga dan komunitas tetap berusaha mempertahankan proses tersebut di masjid, tenda, tempat pengungsian, maupun ruang sederhana lainnya.
2. Keluarga Memegang Peran Penting dalam Tradisi Tahfidz
Di banyak keluarga Palestina, pendidikan Al-Qur’an mendapat tempat penting dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu gagasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kuatnya dorongan tersebut adalah “1 keluarga, 1 penghafal Al-Qur’an.” Prinsip ini menunjukkan harapan agar setidaknya ada anggota keluarga yang menjadi penjaga hafalan Al-Qur’an dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, tanggung jawab menghafal tidak hanya berada di tangan lembaga pendidikan. Orang tua, saudara, guru, dan lingkungan sekitar ikut menjaga prosesnya.
3. Bahasa Arab Membantu Anak Dekat dengan Teks Al-Qur’an
Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, sementara bahasa Arab merupakan bahasa sehari-hari masyarakat Palestina. Kondisi ini membuat anak-anak tumbuh dengan paparan bahasa yang sama dengan bahasa Al-Qur’an sejak kecil.
Kedekatan bahasa tersebut tentu bukan satu-satunya alasan seseorang mampu menghafal Al-Qur’an. Namun, lingkungan bahasa yang akrab dapat membantu anak mengenali kosakata, struktur kalimat, dan bunyi ayat yang mereka dengarkan berulang kali.
4. Hafalan Al-Qur’an Menjadi Tradisi Lintas Generasi
Tradisi tahfidz juga tidak terbatas pada anak-anak. Sejumlah tokoh dan pejabat Palestina dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an, sementara lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan terus melahirkan para hafiz dan hafizah.
Artinya, menghafal Al-Qur’an hadir dalam berbagai lapisan kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan anak-anak, tetapi dapat terus melekat hingga dewasa.
5. Bahkan di Penjara, Hafalan Tetap Diteruskan
Ketahanan tradisi tersebut terlihat dari kisah para tahanan Palestina. Al Jazeera pernah melaporkan bagaimana para tahanan mengubah waktu di penjara menjadi kesempatan untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an. Mantan tahanan Gaza, Wasim Abu Sahloul, menceritakan bahwa para tahanan tetap saling mengajarkan Al-Qur’an. Sebagian menghafal beberapa surah, sementara sebagian lainnya berhasil menghafal seluruh Al-Qur’an.
6. Al-Qur’an Menjadi Sumber Penguatan di Tengah Perang
Perang berkepanjangan membuat kehidupan masyarakat Palestina dipenuhi kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun, di tengah keadaan tersebut, Al-Qur’an tetap menjadi salah satu sumber penguatan spiritual bagi banyak warga.
Kedekatan dengan Al-Qur’an memberi ruang bagi mereka untuk mempertahankan harapan, kesabaran, dan keyakinan ketika kehidupan sehari-hari berubah drastis. Karena itu, bagi sebagian masyarakat Palestina, menjaga hafalan bukan hanya soal menyelesaikan target ayat, tetapi juga mempertahankan bagian penting dari kehidupan mereka.
Tradisi Penghafal Al-Qur’an Tetap Bertahan Meski Ruang Belajar Hancur
Menjaga tradisi ini tentu tidak mudah. Perang menghancurkan banyak sekolah dan masjid, memaksa keluarga berpindah berkali-kali, serta membuat anak-anak kehilangan lingkungan belajar yang stabil. Namun, mereka terus mencari tempat yang memungkinkan untuk belajar dan mengulang hafalan.
Di Al-Mawasi, misalnya, anak-anak tetap mengikuti kegiatan menghafal meski hidup dalam pengungsian. Salah satu laporan Al Jazeera pada September 2026 menceritakan anak yang menyelesaikan hafalan Al-Qur’an setelah berpindah dari Rafah ke Khan Younis. Kegiatan hafalan tetap berlangsung meski ruang belajar mereka berada dalam situasi yang jauh dari normal.
Dukung Pendidikan Al-Qur’an Anak Gaza
Menjadi penghafal Al-Qur’an membutuhkan ruang untuk terus tumbuh. Ketika perang membuat ruang belajar semakin terbatas, dukungan pendidikan dapat membantu anak-anak Gaza tetap memiliki kesempatan untuk belajar, menghafal, dan menjaga tradisi yang telah diwariskan keluarganya.
Bagi komunitas, majelis taklim, sekolah Islam, maupun kelompok pengajian yang ingin ikut mendukung pendidikan anak-anak Gaza, AVI menyediakan materi dan pendampingan untuk penggalangan dana bersama.
Ingin menggalang dukungan untuk pendidikan anak Gaza?
Hubungi WhatsApp AVI di 0811 820 196 untuk mendapatkan materi dan pendampingan penggalangan dana.
Donasi dapat disalurkan melalui:
BSI 369 369 0004
a.n. AVI Peduli Kemanusiaan
Mandiri 127 00 7223347 9
a.n. Yayasan Alquds Volunteers Indonesia
FAQ Penghafal Al Quran di Gaza
Mengapa banyak anak Gaza menjadi penghafal Al Quran?
Tradisi menghafal Al-Qur’an telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan masyarakat Palestina. Anak-anak mengenalnya sejak usia dini melalui keluarga, masjid, sekolah, dan berbagai kegiatan tahfidz.
Apakah tradisi menghafal Al-Qur’an berhenti karena perang?
Tidak. Berbagai laporan menunjukkan kegiatan hafalan tetap berlangsung di masjid, tenda, tempat pengungsian, dan ruang belajar sementara meskipun perang membuat kondisi pendidikan jauh lebih sulit.
Apakah hanya anak-anak Palestina yang menghafal Al-Qur’an?
Tidak. Tradisi tahfidz juga dijalankan oleh orang dewasa dan ditemukan di berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, sejumlah tahanan Palestina dilaporkan tetap belajar dan menghafal Al-Qur’an selama berada dalam penahanan.
Apa yang membuat hafalan Al-Qur’an tetap bertahan di Gaza?
Keluarga, lingkungan masyarakat, pendidikan agama, dan kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam mempertahankan tradisi tersebut. Ketika fasilitas pendidikan rusak, masyarakat berusaha memindahkan proses belajar ke ruang yang masih tersedia.