Warga Gaza Harus Membayar Kebutuhan Dasar Setelah Kehilangan Rumah
Bagi banyak keluarga Palestina di Gaza, kebutuhan rumah tangga yang dahulu dipenuhi dari rumah kini harus dibayar kepada orang lain. Kerusakan rumah dan infrastruktur akibat perang membuat air, listrik, hingga mencuci pakaian tidak lagi mudah dilakukan secara mandiri.
Hajj Rabhi al-Fairi, 79 tahun, merasakan kondisi itu di kawasan Nassr, Kota Gaza. Setiap kali generator kecil datang, warga bergiliran menggunakannya selama sekitar tujuh hingga delapan menit untuk menjalankan pompa air dan mengisi tangki di atap.
“Kami punya pompa air tua, tetapi tidak ada listrik untuk menjalankannya. Kami harus menyewa generator,” katanya kepada Al Jazeera.
Keluarga al-Fairi kembali ke rumah pada Oktober 2025 setelah mengungsi sebulan sebelumnya. Mereka mendapati lingkungan dan rumah dalam kondisi rusak parah, tanpa listrik maupun pasokan air kota yang berfungsi. Biaya menyewa generator yang sebelumnya sekitar 80-90 shekel per jam kini dapat mencapai 100-120 shekel, belum termasuk solar.
Khalil Abu Ouda, 39 tahun, menjalankan generator portabel dari satu rumah ke rumah lain menggunakan gerobak yang ditarik kuda. Ia bekerja 10-12 jam sehari karena permintaan tinggi. Generator kecil yang masih berfungsi hanya sedikit, sementara suku cadang, mekanik, bahan bakar, dan oli semakin sulit serta mahal diperoleh.
Ketergantungan pada jasa berbayar juga terjadi untuk mencuci pakaian. Abeer Ghorab, 52 tahun, yang sebelum perang memiliki mesin cuci, kulkas, dan listrik stabil, kini membawa pakaian dari tendanya ke tempat laundry.
“Hal-hal yang dulu kita anggap biasa saja kini menjadi mimpi. Sekarang kita harus membayar untuk setiap hal kecil yang dulu kita lakukan di rumah,” ujarnya.
Kondisi tersebut berkaitan dengan kerusakan luas pada perumahan dan infrastruktur. Penilaian PBB pada awal Agustus menemukan 91 persen rumah tangga yang disurvei mengalami kekurangan air sedang hingga tinggi. Sementara itu, dari 178.632 unit perumahan yang diperiksa, 107.941 atau sekitar 60 persen mengalami kerusakan parah, hancur, atau dianggap tidak layak huni.
Usaha laundry keluarga al-Hurriya kini melayani sekitar 20-30 muatan per hari, terutama keluarga pengungsi yang tidak memiliki listrik, air, atau mesin cuci. Biayanya enam shekel jika menggunakan tenaga surya dan 12 shekel jika memakai generator.
Bagi warga seperti Ghorab, pengeluaran tersebut menambah beban kebutuhan sehari-hari. “Aku harus membayar setiap pengeluaran kecil sehari-hari, dan dengan betapa sulitnya keadaan, sulit untuk memenuhi semua kebutuhan,” katanya. (nun/avi)