Makanan Bergizi Gaza
Hubungi Kami
Palestina Terkini

Penutupan Akses Israel Hambat Warga Palestina Mendapatkan Pengobatan

24 Oct 2026 0 Suka
Penutupan Akses Israel Hambat Warga Palestina Mendapatkan Pengobatan

Penutupan akses menuju sebagian besar kota dan permukiman Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel semakin membatasi pergerakan warga, termasuk mereka yang membutuhkan layanan kesehatan. Dampak pembatasan itu dirasakan Yousef Mur, warga Yatta, yang tidak dapat membawa putrinya ke Yerusalem untuk menjalani pengobatan kanker.

Mur mengatakan pasukan Israel menembakkan granat kejut ketika mereka berusaha melintas. Insiden tersebut membuat putrinya ketakutan, sementara perjalanan untuk mendapatkan perawatan medis menjadi terhambat.

Pembatasan mobilitas itu berlangsung bersamaan dengan operasi militer Israel di Hebron yang memaksa sekitar 1.200 warga Palestina meninggalkan rumah mereka. Operasi tersebut digelar sehari setelah dua pria bersenjata Palestina menewaskan dua tentara Israel di sebuah pos pemeriksaan dekat kota itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (23/10/2026) menyatakan militer akan melancarkan operasi berskala besar. Militer Israel kemudian menggelar operasi di lingkungan Al-Jaladah dan Ein Deir Baha untuk mencari kelompok bersenjata dan senjata, termasuk rencana penghancuran bangunan.

Kepala Pemerintah Kota Hebron, Yousef Zouhair Al-Jabari, mengatakan sekitar 1.300 warga lainnya terancam kehilangan tempat tinggal. Menurut dia, operasi militer telah menghancurkan toko, pabrik, rumah, dan jalan. Otoritas Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk “hukuman kolektif” terhadap warga sipil.

Organisasi Palestinian Prisoners' Club juga melaporkan sekitar 70 warga Palestina ditangkap pada Jumat dan Sabtu. Hingga laporan Reuters diterbitkan, pejabat Israel belum memberikan komentar mengenai penangkapan tersebut.

Sejumlah warga Hebron mengatakan kepada Reuters bahwa banyak orang yang diusir dari rumahnya tidak memiliki hubungan dengan serangan terhadap tentara Israel. Majdi Nasser, salah seorang warga yang kehilangan tempat tinggal, meminta pemerintah memberikan bantuan kepada keluarga terdampak, termasuk anak-anak yang tidak terlibat dalam serangan.

Warga juga melaporkan adanya tanda silang hitam pada rumah-rumah setelah penghuninya dipaksa pergi, meski tujuan pemberian tanda tersebut belum diketahui.

Pembatasan pergerakan dan operasi militer ini berlangsung ketika pemerintah Netanyahu terus memperluas permukiman Israel di Tepi Barat. Badan-badan PBB dan sebagian besar negara menganggap permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional, sedangkan Israel menolak pandangan itu. (nun/avi)Penutupan akses menuju sebagian besar kota dan permukiman Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel semakin membatasi pergerakan warga, termasuk mereka yang membutuhkan layanan kesehatan. Dampak pembatasan itu dirasakan Yousef Mur, warga Yatta, yang tidak dapat membawa putrinya ke Yerusalem untuk menjalani pengobatan kanker

Mur mengatakan pasukan Israel menembakkan granat kejut ketika mereka berusaha melintas. Insiden tersebut membuat putrinya ketakutan, sementara perjalanan untuk mendapatkan perawatan medis menjadi terhambat.

Pembatasan mobilitas itu berlangsung bersamaan dengan operasi militer Israel di Hebron yang memaksa sekitar 1.200 warga Palestina meninggalkan rumah mereka. Operasi tersebut digelar sehari setelah dua pria bersenjata Palestina menewaskan dua tentara Israel di sebuah pos pemeriksaan dekat kota itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (23/10/2026) menyatakan militer akan melancarkan operasi berskala besar. Militer Israel kemudian menggelar operasi di lingkungan Al-Jaladah dan Ein Deir Baha untuk mencari kelompok bersenjata dan senjata, termasuk rencana penghancuran bangunan.

Kepala Pemerintah Kota Hebron, Yousef Zouhair Al-Jabari, mengatakan sekitar 1.300 warga lainnya terancam kehilangan tempat tinggal. Menurut dia, operasi militer telah menghancurkan toko, pabrik, rumah, dan jalan. Otoritas Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk “hukuman kolektif” terhadap warga sipil.

Organisasi Palestinian Prisoners' Club juga melaporkan sekitar 70 warga Palestina ditangkap pada Jumat dan Sabtu. Hingga laporan Reuters diterbitkan, pejabat Israel belum memberikan komentar mengenai penangkapan tersebut.

Sejumlah warga Hebron mengatakan kepada Reuters bahwa banyak orang yang diusir dari rumahnya tidak memiliki hubungan dengan serangan terhadap tentara Israel. Majdi Nasser, salah seorang warga yang kehilangan tempat tinggal, meminta pemerintah mem

Warga juga melaporkan adanya tanda silang hitam pada rumah-rumah setelah penghuninya dipaksa pergi, meski tujuan pemberian tanda tersebut belum diketahui.

Pembatasan pergerakan dan operasi militer ini berlangsung ketika pemerintah Netanyahu terus memperluas permukiman Israel di Tepi Barat. Badan-badan PBB dan sebagian besar negara menganggap permukiman tersebut ilegal menurut hukum internasional, sedangkan Israel menolak pandangan itu. (nun/avi)

Bantu Mereka yang Membutuhkan di Palestina

Setiap donasi Anda memberikan harapan bagi saudara-saudara kita di Gaza.

Berita Terkait

Hampir 95 Persen Kampus Gaza Rusak, Universitas Islam Kembali Diserang Israel
Palestina Terkini

Hampir 95 Persen Kampus Gaza Rusak, Universitas Islam Kembali Diserang Israel

Hampir 95 persen kampus pendidikan tinggi di Jalur Gaza telah hancur atau mengalami kerusakan sejak ...

26 Oct 2026
0
Baca Selengkapnya
Israel Halangi Tahanan Palestina Mendapat Pakaian dan Selimut Hadapi Musim Dingin
Palestina Terkini

Israel Halangi Tahanan Palestina Mendapat Pakaian dan Selimut Hadapi Musim Dingin

Sekitar 9.400 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel dilaporkan tidak memperoleh akses memadai ...

23 Oct 2026
0
Baca Selengkapnya
Serangan Pemukim Israel Bertujuan Mengusir Warga Palestina dari Tepi Barat
Palestina Terkini

Serangan Pemukim Israel Bertujuan Mengusir Warga Palestina dari Tepi Barat

Serangan berulang dilakukan gerombolan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki dinilai memiliki t...

22 Oct 2026
0
Baca Selengkapnya