Serangan Pemukim Israel Bertujuan Mengusir Warga Palestina dari Tepi Barat
Serangan berulang dilakukan gerombolan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki dinilai memiliki tujuan jelas untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyoroti kondisi tersebut di tengah meningkatnya ancaman terhadap warga, termasuk petani Palestina yang sedang menjalani musim panen zaitun.
“Di Tepi Barat yang diduduki, warga Palestina terus mengalami serangan harian oleh pemukim Israel. Tujuan yang jelas adalah mengusir masyarakat dari tanah mereka,” kata Guterres kepada wartawan, Kamis.
Guterres menyebut perlindungan warga Palestina, penghentian kekerasan, dan pembukaan ruang diplomasi sebagai persoalan mendesak. Seruan itu disampaikan dia ketika data PBB menunjukkan serangan terhadap masyarakat dan lahan pertanian terus menimbulkan dampak luas di Tepi Barat yang diduduki.
Guterres menegaskan bahwa perlindungan warga sipil dan pencegahan meluasnya konflik harus menjadi prioritas. Ia dijadwalkan bertolak ke Mesir pada Jumat untuk membahas persoalan tersebut sekaligus membawa pesan mengenai pentingnya diplomasi.
“Saya akan membawa pesan yang sama: Kita perlu menghentikan meluasnya perang, melindungi warga sipil, serta menciptakan ruang politik bagi diplomasi dan perdamaian,” ujarnya, seperti dikutip Sputnik.
Kekhawatiran terhadap keselamatan warga Palestina juga disampaikan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR). Pada Senin (19/10/2026), lembaga tersebut memperingatkan bahwa petani Palestina kembali menghadapi ancaman dan serangan selama musim panen zaitun. OHCHR mendesak agar mereka mendapatkan perlindungan memadai dan dapat mengakses lahan pertanian dengan aman tanpa ancaman kekerasan.
Data OHCHR mencatat 178 serangan pemukim Israel selama musim panen zaitun 2025. Serangan itu berdampak terhadap 88 kota dan desa Palestina, menjadi jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2020.
Kerusakan juga menimpa sektor pertanian. Lebih dari 6.000 pohon zaitun dan bibit tanaman dilaporkan rusak, dua kali lipat dibandingkan jumlah pada 2024. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Serangan terhadap petani dan perusakan tanaman tidak hanya mengancam sumber penghidupan warga, tetapi juga memperbesar kekhawatiran mengenai kemampuan mereka untuk tetap bertahan di tanah sendiri. (nun/avi)